Profil Penulis

Reen Zein

Menulis dengan Hati, Menginspirasi Sepanjang Masa — Seorang penulis yang percaya bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk memberi arti.

Jejak Kata
Catatan terbaru penulis
kehidupan
“Lepaskan biar ikhlas, ikhlaskan biar pergi...
satu cerita takkan pernah benar-benar hilang pada satu kenangan baru..
dia akan menyelimuti dan membungkusnya pada satu rasa yang sempurna..
- Rasa Syukur”
Lepaskan
Kehidupan
“Jika ia berjalan tentu punya arah, jika ia hilang tentu punya bekas...”
jika
Kehidupan
“Kenyamanan dan kebaikan hidup seorang muslim tidak bisa diukur dari tercukupinya segala kebutuhan hidupnya, tapi seberapa banyak hukum-hukum Allah diterapkan dalam kehidupannya”
Berhukum kepada Allah
Profil penulis
Karya & Buku

Semua karya penulis

6 karya published
Damai yang GersangNovel

Damai yang Gersang

Kisah pasangan yang mengalami berbagai dilema kehidupan. Pertemuan dan Perpisahan yang unik, namun kembali sunyi meski mereka bersatu kembali

Sejuta Kisah di TBMBuku

Sejuta Kisah di TBM

Kumpulan Cerpen Anak. Temukan karya Reen berjudul Sapu Senja

Kasih Sayang IbuBuku

Kasih Sayang Ibu

Novel Antologi bertema Kasih Sayang Seorang Ibu

Tales Of YouthBuku

Tales Of Youth

Kumpulan Cerpen bergenre Teenlit.

Bala'Novel

Bala'

Kisah tentang seorang wanita yang merasa dirinya selalu membawa sial bagi dirinya, dan dimanapun ia berada. ia mencoba mempercayai suaminya yan ambisius dan pe…

Surat untuk awanNovel

Surat untuk awan

Kisah tentang cinta seorang ibu, pengorbanan, dan pentingnya kehadiran orang tua sebagai “Rumah” dalam kehidupan anak, bukan hanya sekedar tempat untuk ditingg…

Update Diary

Status dan kegiatan terbaru

Lihat Semua
2026-08-06
Perasaan. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak punya perasaan. Benar, kan? Benar, donk? Tanpa memandang seseorang itu perempuan atau laki-laki, semua manusia diciptakan Allah punya fitrah sebagai potensi kehidupan, yang meliputi kebutuhan, keinginan dan akal. Perasaan lahiriah menempati posisi pada pemenuhan kebutuhan. Butuh makan, butuh tidur, butuh keamanan, butuh kenyamanan, semua yang berasal dari diri manusia. Jika tidak terpenuhi, bisajadi akan merusak kehidupannya, sakit, bahkan kematian. sementara Perasaan batin menempati posisi pada pemenuhan keinginan. ingin makan yang enak, yang pedas dan sebagainya. intinya makan, ada tambahan-tambahan yang sifatnya personal. Begitu pula ingin tidur. tempatnya? waktunya? suasananya? temannya. Semua itu diransang oleh sesuatu yang berasal dari luar diri manusia. Jika tidak terpenuhi? tentunya tidak akan sampai merusak kehidupannya. Hanya gelisah saja. iya donk? putus cinta bukan berarti kiamat kan? hidup terus berlanjut, kita tetap butuh makan, butuh tidur, butuh beraktivitas. dan kita akan bertemu orang lain. sakit hati? iya, tapi kan nggak mati. Begitu seterusnya. sampai akhirnya ada perbedaan-perbedaan bagaimana seseorang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dikarenakan adanya keinginan-keinginan. dari yang simpel sampai yang ribet. dari yang murah sampai yang mahal. Mereka mencari dan mencari cara pemenuhan kebutuhan yang dianggapnya "nyaman". kadaang, atau bahkan sering, orang tidak bisa lagi membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan. Blunder. gara-gara memenuhi keinginan, banyak orangnya yang akhirnya merusak kehidupannya. makanya Allah lengkapi fitrah manusia itu dengan adanya Akal. Akal itu punya sifat yang bisa membedakan baik dan buruk. tapi akal saja masih belum bisa membuat manusia terhindar dari perbedaan-perbedaan dan persengketaan. itu sebabnya ALlah turunkan penuntun dan penjelas sebagai pemersatu yang hakiki, the only one standar kebenaran. Apakah ekspresi manusia jadi terbatas? selagi tidak bertentangan dengan al Quran dan sunah, silahkan saja manusia berekspresi. butuh makan inginnya pakai rendang, dagingnya lembut, dan tidak terlalu pedas. asal jangan dagingnya daging babi, atau santannya dari kelapa curian. sesimple itu hidup ternyata. tapi banyak orang yang ingin tetap mengedepankan perasaannya. bersikeras bahwa keinginannya itulah yang merupakan kebutuhan. Nah, disanalah kenapa iman itu penting. Hanya iman yang bisa menundukkan akal. walaupun kita ingin, kita butuh, tapi ketika wahyu memutuskan kebenaran, akal harus tunduk pada kebenaran itu. sakit?? iya, itu makanaya Allah bersama orang-orang yang ikhlas dan sabar (bukan dalam hal kezhaliman yaa) lalu, apakah kita harus selalu melogikakan perasaan? dan menepikan perasaan itu sendiri? menurut kamu??
Suara Pembaca

Ruang komentar

Iboey

Freedomers

Flying,but dont forget who you are

Kirim komentar

Contact Me

Terhubung dengan penulis

Silakan pilih kebutuhan Anda. Pesan akan diteruskan langsung ke WhatsApp administrator.

Ilustrasi kontak penulis
Mari berbincang tentang buku, cerita, dan kolaborasi.